Prinsip prinsip Dasar Keimanan Ahlu Sunnah



شرح أصول الإيمان
PRINSIP-PRINSIP DASAR KEIMANAN
Oleh : SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALEH AL ‘UTSAIMIN

Penerjemah :Ali Makhtum Assalamy
Editor: Munir F. Ridwan – Muh.Mu’inudinillah Basri.

ISI BUKU

PENDAHULUAN ………………………………………………………..……..
AGAMA ISLAM …………………………………………………….………..…
RUKUN ISLAM …………………………………………………………………
PRINSIP AQIDAH ISLAM …………………………………………………….
IMAN KEPADA ALLAH SWT ………………………………………………..
1. Mengimani Wujud Allah Swt ………………………….………………
2. Mengimani Rububiyah Allah swt ……………………………………..
3. Mengimani Uluhiyah Allah ……………………………………………
4. Mengimani Asma dan Sifat Allah Swt ………………………………..
IMAN KEPADA MALAIKAT ……………………………….……………….
IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH ………………….………………..
IMAM KEPADA PARA RASUL ……………………………………………..
IMAN KEPADA HARI AKHIR ………………………………..…………….
IMAN KEPADA TAKDIR …………………………………………………….
TUJUAN AKIDAH ISLAM …………………………………………………..

بسم الله الرحمن الرحيم
PENDAHULUAN

Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan- Nya, memohon ampunan-Nya, serta bertobat kepada-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri serta perbuatan-perbuatan buruk Kami. Barang siapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada satupun yang dapat menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan Allah, tidak ada satupun yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Selamat sejahtera semoga dilimpahkan kepadanya, kepada keluarga, para sahabat dan para pengikutnya.

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia dan paling agung kedudukannya. Setiap muslim wajib mempelajari, mengetahui dan memahami ilmu tersebut, karena merupakan ilmu tentang Allah , tentang asma-asma-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas semua hamba-Nya.

Ilmu tauhid juga merupakan kunci jalan menuju Allah , serta dasar syari’at-Nya. Oleh karena itu para Rasul bersepakat untuk mendakwahkannya kepada seluruh umat manusia.

Allah berfirman :

 وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون 
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” ( QS. Al-Anbiya : 25).

Allah menyaksikan ke Esaan diri-Nya. Demikian juga para Malaikat dan para ulama’.
Allah berfirman yang artinya :

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Dia, yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Imran : 18).
Jika ilmu tauhid sedemikian pentingnya, maka setiap muslim tentu wajib memperhatikannya dengan mempelajari dan mengajarkannya, dengan berpikir dan beriktikad agar dapat mendirikan dinullah atas dasar yang benar, serta untuk menenangkan jiwa dan mendapatkan kebahagiaan sebagai buah dan hasilnya.

AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Dengan Islam, Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hambanya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatanNya, dan meridlai Islam sebagai dinnya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima selain Islam.

Allah berfirman:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (40) سورة الأحزاب

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi… (QS. Al-Ahzab : 40).
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا  (3) سورة المائدة
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu ni’matKu, dan telah Kuridlai Islam itu jadi agama bagimu…” (QS. Al-Maidah : 3).
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللّهِ الإِسْلاَمُ (19) سورة آل عمران
“Sesungguhnya Ad-diin (yang diridlai) di sisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Al-Imran : 19).

 وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلاَمِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ (85) سورة آل عمران
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-Imran : 85).

Allah telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada Rasul-Nya, yang artinya :
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ لا إِلَهَ إِلاَّ هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُواْ بِاللّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (158) سورة الأعراف
“Katakanlah : “Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf 158).

Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah bersabda :
” والذي نفس محمد بيده، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي أو نصراني ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار “.
“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari ummat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR.Muslim).

Beriman kepada Nabi artinya : membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib ( paman Nabi ) dikatakan bukan orang yang beriman kepada Nabi , walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu, dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama terbaik.

Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat dan umat.

Allah berfirman kepada Rasulnya yang artinya :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu… ( QS. Al-Maidah : 48).

Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah bahwa berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.

Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan dalam firman-Nya, yang artinya :

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33) سورة التوبة
“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” ( QS. At-Taubah : 33).
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ(55) سورة النــور
“Dan Allah telah berjanji kepada orang orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridlainya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam kekuatan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” ( QS. An-Nur : 55).

Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syai’at, karena :
1. memerintahkan untuk bertauhid dan melarang syirik.
2. memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.
3. memerintahkan untuk berbuat adil dan melarang berbuat lalim.
Catatan :
Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang, yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunyapun tidak terpuji.
4. memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.
5. memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.
6. memerintahkan untuk berbakti pada ibu-bapak serta melarang menyakitinya.
7. memerintahkan untuk bersilaturrahim/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.
8. memerintahkan untuk berbuat baik dengan tetangga dan melarang berbuat jahat kepada mereka.

Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan buruk.

Allah berfirman :
 إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي يعظكم لعلكم تذكرون 
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” ( QS. An Nahl : 90).

RUKUN ISLAM

Islam didirikan atas lima dasar, sebagaimana yang tersebut dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar , Rasulullah bersabda :
” بني الإسلام على خمس؛ شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا عبده ورسوله، وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة وصيام رمضان والحج “.
“Islam didirikan atas lima dasar; yakni : (1) Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) puasa Ramadlan, dan (5) ibadah haji.” (HR. Bukhari Muslim).

1. Kesaksian tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba serta Rasul-Nya merupakan keyakinan yang mantap, yang diekspresikan dengan lisan. Dengan kemantapannya itu, seakan-akan dapat menyaksikan-Nya.
Syahadah (kesaksian) merupakan satu rukun, padahal yang disaksikan itu ada dua hal, ini dikarenakan Rasul adalah muballigh (penyampai) sesuatu dari Allah . Jadi, kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan Allah merupakan kesempurnaan kesaksian : “Tiada tuhan selain Allah”.
Atau, karena kesaksian (syahadah) itu merupakan dasar sah dan diterimanya semua amal. Amal tidak sah dan tidak akan diterima bila dilakukan tidak dengan keikhlasan terhadap Allah dan dengan tidak mengikuti manhaj RasulNya . Ikhlas kepada Allah terealisasi pada kesaksian “bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya.”
Buah syahadah (kesaksian) yang terbesar ialah membebaskan hati dan jiwa dari penghambaan terhadap makhluk serta tidak mengikuti selain para Rasul-Nya.
2. Mendirikan shalat artinya menyembah Allah dengan mengerjakan shalat secara istiqamah serta sempurna, baik waktu maupun caranya.
Salah satu buah atau hikmah shalat adalah mendapat kelapangan dada, ketenangan hati, dan menjauhkan diri dari perbuatan keji dan mungkar.
3. Mengeluarkan zakat artinya, menyembah Allah dengan menyerahkan kadar (ukuran) yang wajib dari harta-harta yang harus dikeluarkan zakatnya.
Salah satu hikmah mengeluarkan zakat adalah membersihkan jiwa dan moral yang buruk yaitu kekikiran, serta dapat menutupi kebutuhan Islam dan umat Islam.
4. Puasa Ramadlan artinya menyembah Allah dengan cara meninggalkan hal-hal yang dapat membatalkannya di siang hari bulan Ramadhan. Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk meninggalkan hal-hal yang disukai karena mencari ridla Allah Azza wa jalla.
5. Naik haji ke Baitullah ( rumah Allah), artinya menyembah Allah dengan menuju ke Baitul al Haram (Rumah suci) untuk mengerjakan syiar atau manasik haji.
Salah satu hikmahnya adalah melatih jiwa untuk mengerahkan segala kemampuan harta dan jiwa agar tetap taat kepada Allah . Oleh karena itu haji merupakan salah satu macam jihad fi sabilillah.

Hikmah rukun Islam, baik yang sudah Kami sebutkan maupun yang belum Kami sebutkan, akan dapat menjadikan umat sebagai umat yang suci, bersih, beragama yang benar, dan memperlakukan manusia dengan penuh keadilan serta kejujuran. Baiknya syariat-syariat Islam yang lain tergantung pada baiknya dasar-dasar ini. Baiknya umatpun tergantung pada baiknya agamanya, dan hilangnya kebaikan tingkah laku umatpun akan tergantung pada kadar hilangnya kebaikan agamanya.

Bagi yang ingin mengetahui penjelasan ini, silahkan menyimak firman Allah yang artinya :

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari diwaktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Alah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah, kecuali orang-orang yang merugi.” ( QS. Al-A’raf : 96-99).

Untuk lebih jelasnya hendaklah anda pelajari sejarah orang-orang terdahulu kita, karena dalam sejarah terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan bagi orang yang hatinya “bersih” (tidak ada hijab yang menutupi hatinya).

PRINSIP AKIDAH ISLAM

Aqidah Islam dasarnya adalah iman kepada Allah, iman kepada para Malaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada para Rasul-Nya, iman kepada hari akhir, dan iman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Dasar-dasar ini telah ditunjukkan oleh Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya .
Allah berfirman dalam kitab sucinya, yang artinya :

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, Malaikat-Malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi…” ( QS. Al-Baqarah : 177).

Dalam soal takdir, Allah berfirman, yang artinya :

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran, dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.” (QS. Al-Qomar : 49-50).

Nabi juga bersabda dalam haditsnya sebagai jawaban terhadap Malaikat jibril ketika bertanya tentang iman :
” الإيمان أن تؤمن بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وتؤمن بالقدر خيره وشره “.
“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari kemudian, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” ( HR. Muslim ).

IMAN KEPADA ALLAH

Iman kepada Allah mengandung empat unsur :
1. Beriman kepada wujudnya Allah .
Wujud Allah telah dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’, dan indra.
 Bukti fitrah tentang wujud Allah adalah bahwa iman kepada sang Pencipta merupakan fitrah setiap makhluk, tanpa terlebih dahulu berpikir atau belajar. Tidak akan berpaling dari tuntutan fitrah ini, kecuali orang yang di dalam hatinya terdapat sesuatu yang memalingkannya.

Rasulullah bersabda :
” ما من مولود إلا يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه “.
“Semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, nasrani, atau majusi.” (HR. Al-Bukhari).

 Bukti akal tentang wujud Allah adalah proses terjadinya semua makhluk, bahwa semua makhluk, yang terdahulu maupun yang akan datang, pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin makhluk menciptakan dirinya sendiri, dan tidak mungkin pula terjadi secara kebetulan. Tidak mungkin wujud itu ada dengan sendirinya, karena segala sesuatu tidak akan dapat mencipakan dirinya sendiri. Sebelum wujudnya tampak, berarti tidak ada.
Semua makhluk tidak mungkin tercipta secara kebetulan karena setiap yang diciptakan pasti membutuhkan pencipta. Adanya makhluk dengan aturan aturan yang indah, tersusun rapi, dan saling terkait dengan erat antara sebab-musababnya dan antara alam semesta satu sama lainnya. Semua itu sama sekali menolak keberadaan seluruh makhluk secara kebetulan, karena sesuatu yang ada secara kebetulan, pada awalnya pasti tidak teratur.
Kalau makhluk tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, dan tidak tercipta secara kebetulan, maka jelaslah, makhluk-makhluk itu ada yang menciptakan, yaitu Allah Rabb semesta alam.

Allah menyebutkan dalail aqli (akal) dan dalil qath’i dalam surat Ath thur :
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ(35) سورة الطور
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” ( QS. Ath-thur : 35).

Dari ayat di atas tampak bahwa makhluk tidak diciptakan tanpa pencipta, dan makhluk tidak menciptakan dirinya sendiri. Jadi jelaslah, yang menciptakan makhluk adalah Allah .
Ketika Jubair bin Muth’im mendengar dari Rasulullah yang tengah membaca surat Ath-thur dan sampai kepada ayat-ayat ini :

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun, ataukah mereka menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Robbmu atau merekalah yang berkuasa?” ( QS. At-Thur : 35-37).

Ia, yang tatkala itu masih musyrik berkata : “hatiku hampir saja terbang. Itulah permulaan menetapnya keimanan dalam hatiku.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam hal ini Kami ingin memberikan satu contoh. Kalau ada sesorang berkata kepada anda tentang istana yang dibangun, yang dikelilingi kebun-kebun, dialiri sungai-sungai, dialasi oleh hamparan karpet, dan dihiasi dengan berbagai perhiasan pokok dan penyempurna, lalu orang itu mengatakan kepada anda bahwa istana dengan segala kesempurnaanya ini tercipta dengan sendirinya, atau tercipta secara kebetulan tanpa pencipta, pasti anda tidak akan mempercayainya, dan menganggap perkataan itu adalah perkataan dusta dan dungu. Kini Kami bertanya kepada anda, masih mungkinkah alam semesta yang luas ini beserta apa-apa yang ada di dalamnya tercipta dengan sendirinya atau tercipta secara kebetulan?.
 Bukti syara’ tentang wujud Allah bahwa seluruh kitab samawi ( yang diturunkan dari langit ) berbicara tentang itu. Seluruh hukum yang mengandung kemaslahatan manusia yang dibawa kitab-kitab tersebut merupakan dalil bahwa kitab-kitab itu datang dari Robb yang maha Bijaksana dan Mengetahui segala kemaslahatan makhluk-Nya. Berita-berita alam semesta yang dapat disaksikan oleh realitas akan kebenarannya yang didatangkan kitab-kitab itu juga merupakan dalil atau bukti bahwa kitab-kitab itu datang dati Robb Yang Maha Kuasa untuk mewujudkan apa yang diberitakan itu.
 Bukti inderawi tentang wujud Allah dapat dibagi menjadi dua:
a. kita dapat mendengar dan menyaksikan terkabulnya do’a orang-orang yang berdo’a serta penolong-Nya yang diberikan kepada orang-orang yang mendapatkan musibah. Hal ini menunjukkan secara pasti tentang wujud Alah .

Allah berfirman :

 ونوحا إذ نادى من قبل فاستجبنا له فنجيناه وأهله من الكرب العظيم 
“Dan (ingatlah kisah) Nuh sebelum itu ketika dia berdo’a, dan Kami memperkenankan do’anya, lalu Kami selamatkan dia beserta keluarganya dari bencana yang besar.” ( QS. Al-Anbiya : 76).

“Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Robbmu, lalu diperkenankannya bagimu …” ( QS. Al-Anfal : 9)
Anas bin Malik berkata : “ Pernah ada seorang badui datang pada hari jum’at. Pada waktu itu Nabi tengah berkhotbah. Lelaki itu berkata : “Hai Rasul Allah, harta benda Kami telah habis, seluruh warga sudah kelaparan. Oleh karena itu mohonkanlah kepada Allah untuk mengatasi kesulitan Kami. “Rasululah lalu mengangkat kedua tangannya dan berdo’a. tiba-tiba awan mendung bertebaran bagaikan gunung-gunung. Rasulullah belum turun dari mimbar, hujan turun membasahi jenggotnya. Pada hari jum’at yang kedua, orang badui atau orang lain berdiri dan berkata : ‘Hai Rasulullah, bangunan Kami hancur dan harta bendapun tenggelam, doakanlah Kami ini kepada Allah (agar selamat).’ Rasulullah lalu mengangkat kedua tangannya, seraya berdo’a : “Ya Robbku, turunkanlah hujan di sekeliling Kami, dan jangan Engkau turunkan sebagai bencana bagi Kami.” Akhirnya beliau tidak mengisyaratkan pada suatu tempat kecuali menjadi terang (tanpa hujan).” (HR. Al-Bukhari).

b. Tanda-tanda para Nabi yang disebut mukjizat, yang dapat disaksikan atau didengar banyak orang merupakan bukti yang jelas tentang wujud yang mengutus para Nabi tesebut, yaitu Allah , karena hal-hal itu berada di luar kemampuan manusia. Allah melakukannya sebagai penguat dan penolong bagi para Rasul.

Ketika Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukul laut dengan tongkatnya, Musa memukulnya, lalu terbelahlah laut itu menjadi dua belas jalur yang kering, sementara air di antara jalur-jalur itu menjadi seperti gunung-gunung yang bergulung. Allah berfirman, yang artinya :

“Lalu Kami mewahyukan kepada Musa : “Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” ( QS. Asy-Syuara’ : 63).

Contoh kedua adalah mukjizat Nabi Isa ketika menghidupkan orang-orang yang sudah mati; lalu mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah.

Allah berfirman yang artinya :

“… dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah…” (QS. Al-Imran : 49).
“ … dan (ingatlah) ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kuburnya (menjadi hidup) dengan izinKu ..” ( QS. Al-Maidah : 110).

Contoh ketiga adalah mukjizat Nabi Muhammad ketika kaum Quraisy meminta tanda atau mukjizat. Beliau mengisyaratkan pada bulan, lalu terbelahlah bulan itu menjadi dua, dan orang-orang dapat menyaksikannya.

Allah berfirman tentang hal ini yang artinya :

“Telah dekat (datangnya) saat (kiamat) dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrik) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata : “(ini adalah) sihir yang terus-menerus.” (QS. Al-Qomar 1-2).

Tanda-tanda yang diberikan Allah, yang dapat dirasakan oleh indera kita itu adalah bukti pasti wujudNya.

2. Beriman kepada Rububiah Allah

Beriman kepada Rububiyah Allah maksudnya : beriman sepenuhnya bahwa Dialah Robb satu-satunya, tiada sekutu dan tiada penolong bagiNya.
Robb adalah yang berhak menciptakan, memiliki serta memerintah. Jadi, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pemilik selain Allah, dan tidak ada perintah selain perintah dari-Nya. Allah telah berfirman yang artinya :

“…Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanya hak Allah. Maha suci Allah, Robb semesta alam.” (QS. Al-A’raf : 54).

…Yang (berbuat) demikian itulah Allah Robbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.” (QS. Fathir : 13).

Tidak ada makhluk yang mengingkari kerububiyahan Allah , kecuali orang yang congkak sedang ia tidak meyakini kebenaran ucapannya, seperti yang dilakukan fir’aun ketika berkata kepada kaumnya : “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” ( QS. An-Naziat : 24), dan juga ketika berkata : “Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” ( QS. Al-Qashash : 38)

Allah berfirman yang artinya :
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (14) سورة النمل
“Dan mereka mengingkarinya karena kezdaliman dan kesombongan mereka padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya.” (QS. An-Naml : 14).
قَالَ لَقَدْ عَلِمْتَ مَا أَنزَلَ هَؤُلاء إِلاَّ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لأَظُنُّكَ يَا فِرْعَونُ مَثْبُورًا (102) سورة الإسراء
Nabi Musa berkata kepada Fir’aun : “Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Robb yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai fir’aun, seorang yang akan binasa.” (QS. Al-Isra’ : 102).

Oleh karena itu, sebenarnya orang-orang musyrik mengakui rububiyah Allah, meskipun mereka menyekutukan-Nya dalam uluhiyah (penghambaan).

Allah berfirman, yang artinya :

“Katakanlah : Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? “Mereka akan menjawab : “kepunyan Allah”. Katakanlah : “siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya Arsy yang besar?” mereka menjawab : “kepunyaan Allah.” Katakanlah : “Maka apakah kamu tidak bertakwa? “Katakanlah : “Siapakah yang di tanganNya berada kekusaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)Nya, jika kamu mengetahui?” mereka akan menjawab : “kepunyaan Allah.” Katakanlah : “(kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” ( QS. Al-Mu’minun : 84-89).

 ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض ليقولن خلقهن العزيز العليم 
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab, “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” ( QS. Az-Zukhruf : 9).

 ولئن سألتهم من خلقهم ليقولن الله فأنى يؤفكون 
“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “siapakah yang menciptakan mereka?”, niscaya mereka menjawab : “Allah”, maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” (QS. Az-Zukhruf : 87).

Perintah Allah mencakup perintah alam semesta (kauni) dan perintah syara’ (syar’i). Dia adalah pengatur alam, sekaligus sebagai pemutus seluruh perkara, sesuai dengan tuntutan hikmahNya. Dia juga pemutus peraturan-peraturan ibadah serta hukum-hukum muamalat sesuai dengan tuntutan hikmahNya. Oleh karena itu barangsiapa menyekutukan Allah dengan seorang pemutus ibadah atau pemutus muamalat, maka dia berarti telah menyekutukan Allah serta tidak beriman kepadaNya.

3. Beriman kepada Uluhiyah Allah

Artinya, benar-benar mengimani bahwa Dialah Ilah yang benar dan satu-satunya, tidak ada sekutu baginya.
Al Ilah artinya “al ma’luh”, yakni sesuatu yang disembah dengan penuh kecintaan serta pengagungan.

Allah berfirman, yang artinya :

“Dan Tuhanmu adalah tuhan yang Maha Esa; tidak ada tuhan melainkan Dia, yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” ( QS. Al Baqarah : 163).

 شهد الله أنه لا إله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم 
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang menegakkan keadilan, para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia yang Maha Perkasa lagi Maha bijaksana.” ( QS. Al-Imran :18).

Allah berfirman tentang lata, uzza, dan manat yang disebut sebagai tuhan, namun tidak diberi hak Uluhiyah:

Allah berfirman, yang artinya :
إِنْ هِيَ إِلا أَسْمَاء سَمَّيْتُمُوهَا أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ (23) سورة النجم
“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya…” (An Najm : 23).

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah, Uluhiyahnya adalah batil.
Allah berfirman yang artinya :
“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) yang haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah yang Mahatinggi lagi Mahabesar.” (Al-Hajj : 62).

Allah juga berfirman tentang Nabi Yusuf yang berkata kepada dua temannya di penjara, yang artinya :

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menuyembah yang selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurukan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu…” ( QS. Yusuf : 40).

Oleh karena itu para Rasul ‘Alaihimussalam berkata kepada kaum-kaumnya :

“Sembahlah Allah oleh kamu sekalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selain daripadanya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa (kepadaNya)?” ( QS. Al-Mu’minun : 32).

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja mengambil Tuhan selain Allah . Mereka menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu dengan menyekutukan Allah.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan orang-orang musyrik ini telah dibatalkan oleh Allah dengan dua bukti :
A. Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai keistimewaan uluhiyah sedikitpun, karena mereka adalah makhluk, tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik manfaat, tidak dapat menolak bahaya, tidak memiliki hidup dan mati, tidak memiliki sedkitpun dari langit dan tidak pula ikut memiliki keseluruhannya.
Allah berfirman,yang artinya :

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripadaNya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mrngambil) sesuatu manfaatpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan.” ( QS. Al-Furqan : 3).

“Katakanlah : “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagiNya, dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkanNya memperoleh syafaat…” ( QS. Saba’ : 22-23).

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang. Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.” ( QS. Al-A’raf :191-192).

Kalau demikian keadaan tuhan-tuhan itu, maka sungguh sangat tolol dan sangat batil bila menjadikan mereka sebagai Ilah dan tempat meminta pertolongan.
B. Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Robb, Pencipta, yang di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya Dialah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi-Nya. Ini mengharuskan pengesaan uluhiyah (penghambaan), seperti mereka mengEsakan Rububiyah (ketuhanan) Allah.
Allah berfirman :

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(21) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأَرْضَ فِرَاشاً وَالسَّمَاء بِنَاء وَأَنزَلَ مِنَ السَّمَاء مَاء فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقاً لَّكُمْ فَلاَ تَجْعَلُواْ لِلّهِ أَندَاداً وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ سورة البقرة
“Hai manusia, sembahlah Robbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orag yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahiu.” ( QS. Al-Baqarah : 21-22).

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka : “Siapakah yang menciptakan mereka? “ niscaya mereka menjawab : “Allah”. Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?” ( QS. Az-Zukhruf : 87).

“Katakanlah : “siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab : “Allah”. Maka katakanlah : “Mengapa kamu tidak bertaqwa (kepadaNya)?” maka (Dzat yang demikian) itulah Allah Robb kamu yang sebenarnya. Tidak ada sesudah kebenaran itu, malainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?” ( QS. Yunus : 31-32).

4. Beriman kepada Asma’ dan sifat Allah .

Iman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah , yakni : menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang sudah ditetapkan Allah untuk diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau sunnah Rasul-Nya dengan cara yang sesuai dengan kebesaran-Nya tanpa tahrif (penyelewengan), ta’thil (peniadaan), takyif (menanyakan bagaimana?), dan tamsil (menyerupakan).

Allah berfirman, yang artinya :

“Allah mempunyai Asmaaul husna, maka memohonlah kepadanya dengan menyebut asmaul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” ( QS. Al-A’raf : 180).

“Allah mempunyai sifat yang Mahatinggi; Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” ( QS. An-Nahl : 60).

“… tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha Melihat.” ( QS. Asy-syura : 11).

Dalam perkara ini ada dua golongan yang tersesat, yaitu :

1. Golongan Mu’aththilah, yaitu mereka yang mengingkari nama-nama dan sifat-sifat Allah atau mengingkari sebagiannya saja. Menurut sangkaan mereka, menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu kepada Allah dapat menyebabkan tasybih (penyerupaan), yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.
Pendapat ini jelas keliru karena :
a. Sangkaan itu akan mengakibatkan hal-hal yang bathil atau salah, karena Allah telah menetapkan untuk diriNya nama-nama dan sifat-sifat, serta telah menafikan sesuatu yang serupa denganNya. Andaikata menetapkan nama-nama dan sifat-sifat itu menimbulkan adanya penyerupaan, berarti ada pertentangan dalam kalam Allah serta sebagian firman-Nya akan menyalahi sebagian yang lain.
b. Kecocokan antara dua hal dalam nama atau sifatnya tidak mengharuskan adanya persamaan. Anda melihat ada dua orang yang keduanya manusia, mendengar, melihat dan berbicara, tetapi tidak harus sama dalam makna-makna kemanusiaannya, pendengarannya, penglihatannya, dan pembicaraannya. Anda juga melihat beberapa binatang yang punya tangan, kaki dan mata, tetapi kecocokannya itu tidak mengharuskan tangan, kaki dan mata mereka sama. Apabila antara mkhluk-makhluk yang serupa dalam nama atau sifatnya saja jelas memiliki perbedaan, maka tentu perbedaan antara khaliq (pencipta) dan makhluk (yang diciptakan) akan lebh jelas lagi.

2. Golongan Musyabbihah, yaitu golongan yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat, tetapi menyerupakan Allah dengan makhluknya. Mereka mengira hal ini sesuai dengan nash-nash Al Qur’an, karena Allah berbicara dengan hamba-hamba-Nya dengan sesuatu yang dapat difahaminya. Angapan ini jelas keliru ditinjau dari beberapa hal, antara lain :

a. Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya jelas merupakan sesuatu yang bathil, menurut akal maupun syara’. Padahal tidak mungkin nash-nash kitab suci Al-Qur’an dan sunnah Rasul menunjukkan pegertian yang bathil.
b. Allah berbicara dengan hamba-hambaNya dengan sesuatu yang dapat dipahami dari segi asal maknanya. Hakikat makna sesuatu yang berhubungan dengan zdat dan sifat Allah adalah hal yang hanya diketahui oleh Allah saja.

Apabila Allah menetapkan untuk diri-Nya bahwa Dia Maha Mendengar, maka pendengaran itu sudah maklum dari segi maknanya, yaitu menemukan suara-suara. Tetapi hakikat hal itu dinisbatkan kepada pendengaran Allah tidak maklum, karena hakekat pendengaran jelas berbeda, walau pada makluk-makhluk sekalipun. Jadi perbedaan hakikat itu antara pencipta dan yang diciptakan jelas lebih jauh berbeda.
Apabila Allah memberitakan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, maka bersemayam dari segi asal maknanya sudah maklum, tetapi hakekat bersemayamnya Allah itu tidak dapat diketahui.

Buah iman kepada Allah :
1. Merealisasikan pengEsaan Allah sehingga tidak menggantungkan harapan kepada selain Allah, tidak takut kepada yang lain, dan tidak menyembah kepada selain-Nya.
2. Menyempurnakan kecintaan terhadap Allah, serta mengagungkan-Nya sesuai dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang Maha tinggi.
3. Merealisasikan ibadah kepada Allah dengan mengerjakan apa yang diperintah serta menjauhi apa yang dilarang-Nya.

IMAN
KEPADA PARA MALAIKAT

Malaikat adalah alam ghaib, makhluk, dan hamba Allah . Malaikat sama sekali tidak memiliki keistimewaan rububiyah dan uluhiyah. Allah menciptakannya dari cahaya serta memberikan kekuatan yang sempurna serta kekuatan untuk melaksanakan ketaatan itu.

Allah berfirman, yang artinya :

“… dan Malaikat yang ada di sisi-Nya, mereka tidak angkuh untuk menyembahnya dan tidak (pula) merasa letih, mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” ( QS. Al Anbiya’ : 19-20).

Malaikat berjumlah banyak, dan tidak ada yang dapat menghitungnya, kecuali Allah. Dalam hadits Bukhari dan Muslim terdapat hadits dari Anas tentang kisah mi’raj bahwa Allah telah memperlihatkan Al-Baitul Ma’mur yang ada di langit kepada Nabi . Di dalamnya terdapat 70.000 Malaikat yang setiap hari melakukan shalat. Siapapun yang keluar dari tempat itu, tidak kembali lagi.

Iman kepada Malaikat mengandung empat unsur :
1. Mengimani wujud mereka.
2. Mengimani mereka yang kita kenali nama-namanya, seperti jibril, dan juga terhadap nama-nama Malaikat yang tidak kita kenal.
3. Mengimani sifat-sifat mereka yang kita kenali, seperti sifat bentuk Jibril, sebagaimana yang pernah dilihat Nabi yang mempuyai 600 sayap yang menutup ufuk.

Malaikat bisa saja menjelma berwujud seorang lelaki, seperti yang pernah terjadi pada Malaikat jibril tatkala Allah mengutusnya kepada Maryam. Jibril menjelma jadi seorang yang sempurna. Demikian pula ketika jibril datang kepada Nabi , sewaktu beliau sedang duduk di tengah-tengah para sahabatnya. Jibril datang dengan bentuk seorang lelaki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat tanda-tanda perjalanannya, dan tidak seorangpun yang mengenalinya. Jibril duduk dekat Nabi , menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahaya. Ia bertanya kepada Nabi tentang Islam, iman, ihsan, hari kiamat, dan tanda-tandanya, setelah tidak di situ lagi, barulah Nabi menjelaskan kepada para sahabatnya, “itu adalah Jibril yang datang untuk mengajarkan agama kalian.”
Demikian halnya dengan para Malaikat yang diutus kepada Nabi Ibrahim dan Luth. Mereka mejelma bentuk mejadi lelaki.

4. Mengimani tugas-tugas yang diperintahkan Allah kepada mereka yang sudah kita ketahui, seperti bacaan tasbih, dan menyembah Allah siang dan malam tanpa merasa lelah.

Diantara mereka ada yang mempunyai tugas-tugas tertentu, misalnya :
 Malaikat Jibril yang dipercayakan menyampaikan wahyu kepada para Nabi dan Rasul.
 Malaikat Mikail yang diserahi tugas menurunkan hujan dan tumbuh-tumbhan.
 Malaikat Israfil yang diserahi tugas meniup sangkakala di hari kiamat dan kebangkitan makhluk.
 Malaikat maut yang diserahi tugas mencabut nyawa orang.
 Malaikat yang diserahi tugas menjaga neraka.
 Para Malaikat yang diserahi tugas yang berkaitan dengan janin dalam rahim, ketika sudah mencapai empat bulan di dalam kandungan, Allah mengutus Malaikat untuk meniupkan ruh dan menyuruh untuk menulis rezkinya, ajal, amal, derita dan bahagianya.
 Para Malaikat yang diserahi tugas menjaga dan menulis semua perbuatan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua Malaikat, yang satu pada sisi dari kanan dan yang satunya lagi pada sisi dari kiri.
 Para Malaikat yang diserahi tugas menanyai mayit. Bila mayit sudah dimasukkan ke dalam kuburnya, maka akan datanglah dua makaikat yang bertanya kepadanya tentang Robbnya, agama dan Nabinya.

Buah iman kepada Malaikat.
1. Mengetahui keagungan Allah, kekuatan dan kekuasanNya. Kebesaran makhluk pada hakikatnya adalah dari keagungan sang pencipta.
2. Syukur kepada Allah atas perhatianNya terhadap manusia sehingga menugasi Malaikat untuk memelihara, mencatat amal-amal dan berbagai kemaslahatannya yang lain.
3. Cinta kepada para Malaikat karena ibadah yang mereka lakukan kepada Allah ..
Ada orang sesat yang mengingkari keberadaan Malaikat, mereka mengatakan bahwa Malaikat ibarat “kekuatan kebaikan” yang tersimpan pada makhluk-makhluk, ini berarti tidak mempercayai kitabullah, sunnah RasulNya, da ijma’ (konsensus) umat Islam.

Allah berfirman, yang artinya :
الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاء إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ سورة فاطر
“Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan Malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah Maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fathir : 1).
وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُواْ الْمَلآئِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُواْ عَذَابَ الْحَرِيقِ  (50) سورة الأنفال
“Kalau kamu melihat ketika para Malaikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka (dan berkata) : “Rasakan olehmu siksa neraka yang membakar”, (tentulah kamu akan merasa ngeri).” (QS. Al-Anfal : 50)

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata) : “Keluarlah nyawamu…” (QS. Al-An’am : 93).

“…sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata : “apakah telah difirmankan oleh Robbmu?” mereke menjawab : “(perkataan) yang benar”, dan Dialah yang Maha tinggi lagi Maha besar.” (QS. Saba’ : 23).

“…Malaikat-Malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil mengucapkan) : “salamun alikum bima shabartum (salam sejahtera kepadamu dengan kesabaranmu). “Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’d : 22-23).

Dari Abu Hurairah , Nabi Muhammad bersabda :
” إذا أحب الله العبد نادى جبريل أن الله يحب فلانا فأحبه، فيحبه جبريل، فينادي جبريل أهل السماء إن الله يحب فلانا فأحبوه، فيحبه أهل السماء، ثم يوضع له القبول في الأرض “.
“Apabila Allah mencintai seorang hambaNya, ia memberitahu Jibril bahwa Allah mencintai fulan, dan menyuruh Jibril untuk mencintainya, maka Jibrilpun mencintainya. Jibril lalu memberitahu para penghuni langit bahwa Allah mencintai fulan dan menyuruh mereka untuk mencintainya maka penghuni langitpun mencintainya, kemudian ia diterima di atas bumi.” (HR. Bukhari).

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah Nabi bersabda :
” إذا كان يوم الجمعة كان على كل باب من أبواب المسجد الملائكة يكتبون الأول فالأول فإذا جلس الإمام طووا الصحف وجاؤوا يستمعون الذكر “.
“ Di setiap hari jum’at pada setiap pintu masjid para Malaikat mancatat satu demi satu orang yang datang. Bila imam sudah duduk (di atas mimbar) mereka menutup buku-bukunya dan datang untuk mendengarkan zdikir (khutbah).”

Dari nash-nash ini tampak jelas bahwa para Malaikat itu benar-banar ada, bukan kekuatan maknawi yang terdapat dalam diri manusia seperti yang disangka orang-orang sesat. Nash-nash tersebut telah disepakati umat Islam.

IMAN KEPADA
KITAB-KITAB ALLAH

Al kutub jamak dari kata “kitab” yang berarti “sesuatu yang ditulis”. Namun yang dimaksud disini adalah kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para RasulNya sebagai rahmat dan hidayah bagi seluruh manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Iman kepada kitab mengandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa kitab kitab tersebut benar-benar diturunkan dari Allah.
2. Mengimani kitab-kitab yang sudah kita kenali namanya seperti Al Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad , Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa , Injil yang diturunkan kepada Nabi Isa, dan Zabur yang diturunkan kepada Nabi Dawud . Adapun kitab-kitab yang tidak kita ketahui namaya, kita mengimaninya secara global.
3. Membenarkan apa apa yang diberitakan, seperti berita-berita yang ada di dalam Al Qur’an, dan berita-berita kitab-kitab terdahulu yang belum diganti atau belum diselewengkan.
4. Mengerjakan seluruh hukum yang belum dinasakh (dihapus) serta rela dan menyerah pada hukum itu, baik kita memahami hikmahnya maupun tidak. Seluruh kitab terdahulu telah dinasakh oleh Al Qur’anul Adhim, seperti firman-Nya, yang artinya :

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumya), dan sebagai batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (QS. Al Maidah : 48).

Oleh karena itu tidak dibenarkan mengerjakan hukum apapun dari kitab-kitab terdahulu, kecuali yang benar dan ditetapkan Al Qur’an.

Buah iman kepada kitabullah
1. Mengetahui perhatian Allah terhadap hamba-hambaNya sehingga menurunkan kitab yang menjadi hidayah (petunjuk) bagi setiap kaum.
2. Mengetahui hikmah Allah dalam syara’ atau hukumNya sehingga menetapkan hukum yang sesuai dengan tingkah laku setiap umat, seperti firman-Nya, yang artinya :
“… untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang…” (QS. Al Maidah : 48).
3. Mensyukuri ni’mat Allah.

IMAN KEPADA PARA RASUL

“Arrusul” bentuk jamak dari kata “Rasul”, yang berarti orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu. Namun yang dimaksud “Rasul” disini adalah orang yang diberi wahyu syara’ untuk disampaikan kepada umat.

Rasul yang pertama adalah Nabiyullah Nuh , dan yang terakhir adalah Nabiyullah Muhammad .

Allah berfirman, yang artinya :

“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-nabi yang berikutnya…” (QS. An Nisa’ : 163).

Anas bin Malik dalam hadits tentang syafaat menceritakan bahwa Nabi mengatakan, nanti orang-orang akan datang kepada Nabi Adam untuk meminta syafaat, tetapi Nabi Adam meminta maaf kepada mereka seraya berkata : “Datangilah Nuh, Rasul pertama yang diutus Allah… ( HR. Bukhori ).
Allah berfirman tentang Nabi Muhammad , yang artinya:

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seoarng lai-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 40).

Setiap umat tidak pernah sunyi dari Nabi yang diutus Allah yang membawa syari’at khusus untuk kaumnya atau dengan membawa syari’at sebelumnya yang diperbaharui. Allah berfirman :

 ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت 
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan) : “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut…” (QS. An Nahl : 36).

“sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (QS. Fathir : 24).

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat didalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang yahudi…” (QS. Al Maidah :44)

Para Rasul adalah manusia biasa, makhluk Allah yang tidak mempunyai sedikitpun keistimewan rububiyah dan uluhiyah. Allah berfirman tentang Nabi Muhammad sebagai pimpinan para Rasul dan yang paling tinggi pangkatnya di sisi Allah :

 قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب لااستكثرت من الخير وما مسني السوء إن أنا إلا نذير وبشير لقوم يؤمنون 
“Katakanlah : “aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al A’raf : 188).

“Katakanlah : “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan. Katakanlah : “sesungguhnya aku sekali-kali tidak seorangpun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada memperoleh tempat berlindung daripada-Nya.” (QS. Al Jin : 21-22).

Para Rasul juga memiliki sifat-sifat kemanusiaan, seperti sakit, mati, membutuhan makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim yang menjelasakan sifat Robbnya, yang artinya :

“Dan Robbku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku, dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali)…” (QS. Asy Syuara’ : 79-81).

Nabi muhamad bersabda :
” إنما أنا بشر مثلكم أنسى كما تنسون، فإذا نسيت فذكروني “.
“Aku tidak lain hanyalah manusia seperti kalian. Aku juga lupa seperti kalian. Karenanya, jika aku lupa, ingatkanlah aku.”

Allah menerangkan bahwa para Rasul mempunyai ubudiyah (penghambaan) yang tertinggi kepadaNya. Untuk memuji mereka, Allah berfirman tentang Nabi Nuh yang artinya :

“…Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur.” (QS. Al Isra’ : 3).

Allah juga berfirman tentang Nabi Muhammad yang artinya :

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al Qur’an) kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al Furqan : 1).

Allah juga berfirman tentang Nabi Ibrahim, Nabi Ishaq, dan Nabi Ya’qub yang artinya :

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami : Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu salalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pilihan yang paling baik.” (QS. Shaad : 45-47).

Allah juga berfirman tentang Nabi Isa bin Maryam yang artinya :
“Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya ni’mat (kenabian) dan Kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan) untuk Bani Israil.” (QS. Az Zukhruf : 59).

Iman kepada para Rasul mengandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa risalah mereka banar-banar dari Allah . Barangsiapa mengingkari risalah mereka, walaupun hanya seorang, maka menurut pendapat seluruh ulama dia dikatakan kafir.
Allah berfirman, yang artinya :
“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul.” (QS. Asy Syu’ara’ : 105).

Allah mejadikan mereka mendustakan semua Rasul, padahal hanya seorang Rasul saja yang ada ketika mereka mendustakannya. Oleh karena itu umat Nasrani yang mendustakan dan tidak mau mengikuti Nabi Muhammad , berarti mereka juga telah mendustakan dan tidak mengikuti Nabi Isa Al Masih bin Maryam, karena Nabi Isa sendiri pernah manyampaikan kabar gembira dengan akan datangnya Nabi Muhammad ke alam semesta ini sebagai rahmat bagi semesta alam. Kata “memberi kabar gambira” ini mengandung makna bahwa Muhammad adalah seorang Rasul mereka yang menyebabkan Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan memberi petunjuk kepada mereka jalan yang lurus.

2. Mengimani orang-orang yang sudah kita kenali nama-namanya, misalnya Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, Nuh . Kelima Nabi Rasul itu adalah Rasul “ulul azmi”. Allah telah menyebut mereka dalam dua tempat dari Al Qur’an, yakni dalam surat Al Ahzab dan surat Asy syura, yang artinya :

“ Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari Nabi-Nabi dan dari kamu (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putera Maryam…” (QS. Al Ahzab 7).

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama yang telah diwasiatkanNya kepada Nuh dan juga apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu : tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah tentangnya…” (QS. Asy Syura : 13).

Terhadap para Rasul yang tidak dikenal nama-namanya, juga wajib kita imani secara global.
Allah berfirman, yang artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu…” (QS. Al Mu’min : 78).
3. Membenarkan apa yang diberitakannya.
4. Mengamalkan syari’at dari mereka yang diutus kepada kita. Dia adalah Nabi terakhir Muhammad yang diutus Allah kepada seluruh mausia. Allah berfirman, yang artinya :
“Maka demi Robbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikah kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa’ : 65).

Buah iman kepada para Rasul.
1. Mengetahui rahmat serta perhatian Allah kepada hamba-hambanya sehingga mengutus para Rasul untuk menunjukkan mereka pada jalan Allah, serta menjelaskan bagaimana seharusnya mereka menyembah Allah , kerena memang akal menusia tidak bisa mengetahui hal itu dengan sendirinya.
2. Mensyukuri ni’mat Allah yang amat besar ini.
3. Mencintai para Rasul, mengagungkan serta memujinya, karena mereka adalah para Rasul Allah dan kerena mereka hanya menyembah Allah, menyampaikan risalahNya, dan menasehati hambaNya.
Orang-orang yang menyimpang dari kebenaran mendustakan para Rasul dengan menganggap bahwa para Rasul Allah bukan manusia. Anggapan yang salah ini dijelaskan Allah dalam sebuah firman-Nya :
 وما منع الناس أن يؤمنوا إذ جاءهم الهدى إلا أن قالوا أبعث الله بشرا رسولا 
“Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepada mereka, kecuali perkataan mereka : “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi Rasul?” (QS. Al Isra : 94).

Dalam ayat di atas Allah mematahkan anggapan mereka yang keliru. Rasul Allah harus dari golongan manusia, karena ia akan diutus kepada penduduk bumi yang juga manusia.
Seandainya penduduk bumi itu Malaikat, pasti Allah akan menurunkan Malaikat dari langit sebagai Rasul.

Di dalam surat Ibrahim, Allah menceritakan orang-orang yang mendustakan para Rasul :
“Mereka (orang-orang yang mendustakan Rasul) berkata : “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi Kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang Kami. Karena itu, datangkanlah kepada Kami bukti yang nyata.” Rasul-Rasul mereka berkata kepada mereka : “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hambanya. Dan tidak patut bagi Kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ibrahim 10-11).

IMAN KEPADA HARI AKHIR

Hari Akhir adalah hari kiamat, dimana seluruh manusia dibangkitkan pada hari itu untuk dihisab dan dibalas. Hari itu disebut hari akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itulah penghuni surga dan penghuni neraka masing-masing menetap di tempatnya.

Iman kepada hari Akhir mengandung tiga unsur :
1. Beriman kepada ba’ts (kebangkitan), yaitu menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Pada waktu itu semua manusia bangkit untuk menghadap Robb alam semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan tidak disunat.

Allah berfirman :
يَوْمَ نَطْوِي السَّمَاء كَطَيِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ كَمَا بَدَأْنَا أَوَّلَ خَلْقٍ نُّعِيدُهُ وَعْدًا عَلَيْنَا إِنَّا كُنَّا فَاعِلِينَ  (104) سورة الأنبياء.
“(yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulng lembaran-lembaran buku. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan partama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’ : 104).

Kebangkitan adalah kebenaran yang pasti ada, bukti keberadaannya diperkuat oleh Al Kitab, sunnah dan ijma’ umat Islam.

Allah berfirman yang artinya :
“Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” (QS. Al Mu’minun : 16).

Nabi Muhamad juga bersabda :
“ Di hari kiamat seluruh manusia akan dihimpun dengan keadaan tidak beralas kaki dan tidak disunat.” (HR. Bukari & Muslim).

Umat Islam sepakat akan adanya hari kebangkitan Karena hal itu sesuai dengan hikmah Allah yang mengembalikan ciptaannya untuk diberi balasan terhadap segala yang telah diperintahkan-Nya melalui lisan para Rasul-Nya.

Allah berfirman yang artinya :
“ Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mu’minin : 115).

Allah berfirman kepada Rasulullah , yang artinya:
“ Sesungguhnya yang mewajibkam atasmu (melaksnakan hukum-hukum) Al Qur’an benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali…” (QS. Al Qashash : 85).

2. Beriman kepada hisab (perhitungan) dan jaza’ (pembalasan) dengan meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan dengan jelas di dalam Al Qur’an, sunnah dan ijma’ (kesepakatan) umat Islam.

Allah berfirman, yang artinya :
“Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka.” (QS. Al Ghasyiah : 25-26).

 من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها وهم لا يظلمون 
“Barang siapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).” (QS. Al- An’am : 160).

“ Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (QS. Al Anbiya’ : 47).

Dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Nabi bersabda yang artinya :
“Allah nanti akan mendekatkan orang mukmin, lalu meletakkan tutup dan menutupnya. Allah bertanya : “Apakah kamu tahu dosamu ini?” “apakah kamu tahu dosamu itu?” Ia menjawab, “Ya Robbku.” Ketika ia sudah mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya telah binasa, Allah berfirman : “Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia dan sekarang Aku mengampuninya.” Kemudian diberikan kepada orang mukmin itu buku amal baiknya. Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik, Allah memanggilnya di hadapan orang banyak. Mereka orang-orang yang mendustakan Robbnya. Ketahuilah, laknat Allah itu untuk orang-orang yang dzalim.” (HR. Bukhari Muslim).

Nabi bersabda :
” أن من هم بحسنة فعملها كتبه الله عنده عشر حسنات إلى سبعمائة ضعف إلى أضعاف كثيرة، وإن هم بسيئة فعملها كتبها الله سيئة واحدة “.
“Orang yang berniat melakukan satu kebaikan, lalu mengamalkannya, maka ditulis baginya sepuluh kebaikan, sampai tujuh ratus kali lipat, bahkan sampai beberapa kali lagi. Barangsiapa berniat melakukan satu kejahatan, lalu mengamalkannya, maka Allah menulisnya satu kejahatan saja.”

Umat Islam telah sepakat tentang adanya hisab dan pembalasan amal, karena hal itu sesuai dengan kebijaksanaan Allah. Sebagaimana kita ketahui, Allah telah menurunkan Kitab-kitab, mengutus para Rasul serta mewajibkan kepada manusia untuk menerima ajaran yang dibawa oleh Rasul-Rasul Allah itu dan mengerjakan segala yang diwajibkannya. Dan Allah telah mewajibkan agar berperang melawan orang-orang yang menentangnya serta menghalalkan darah, keturunan, isteri dan harta benda mereka. Kalau tidak ada hisab dan balasan tentu hal ini hanya sia-sia belaka, dan Robb yang Maha bijaksana, Mahasuci darinya.

Allah telah mengisyaratkan hal itu dalam firman-Nya, yang artinya :
“Maka sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus Rasul-Rasul kepada mereka dan sesunguhnya Kami akan menanyai (pula) Rasul-Rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat). Sedang (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (QS. Al Anfal : 6-7).

3. Mengimani sorga dan neraka sebagai tempat manusia yang abadi. Sorga adalah tempat keni’matan yang disediakan Allah untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani, yang taat kepada Allah dan RasulNya, dan kepada orang-orang yang ikhlas.
Di dalam sorga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, serta tidak terlintas dalam benak manusia.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Robb mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap mereka, dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Robbnya.” QS. (QS. Al bayyinah : 7-8).

“Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang disembnyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam ni’mat) yang menyenangkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. As Sajadah : 17).

Neraka adalah tempat azab yang disediakan Allah untuk orang-orang kafir, yang berbuat zalim serta bagi yang mengingkari Allah dan RasulNya. Di dalam neraka terdapat berbagai azab dan sesuatu yang menakutkan, yang tidak pernah terlintas dalam hati.

 واتقوا النار التي أعدت للكافرين 
“Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (QS. Al Imran : 131).

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang yang zalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka miminta minum, maka mereka akan diberi minuman dengan air seperti besi yang mendidih yang dapat menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al Kahfi : 29).

“Sesungguhnya Allah melaknati orang-rang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata Kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul.” (QS. Al Ahzab : 64-65).

Iman kepada hari akhir adalah termasuk mengimani peristiwa-peristiwa yang akan terjadi sesudah mati, misalnya :

a. fitnah kubur, yaitu pertanyaan yang diajukan kepada mayat ketika sudah dikubur, tentang Robbnya, agama dan Nabinya. Allah akan meneguhkan orang-orang yang beriman dengan kata-kata yang mantap. Ia akan menjawab pertanyaaan itu dengan tegas dan penuh keyakinan, Allah Robbku, Islam agamaku, dan Muhammad Nabiku. Allah menyesatkan orang-orang yang dzalim dan kafir. Mereka akan menjawab pertanyaan dengan terbengong-bengong karena pertanyaan itu terasa asing baginya. Mereka akan menjawab, “Aku… aku tidak tahu.” Sedangkan orang-orang munafik akan menjawab pertanyaan itu dengan kebingungan, aku tidak tahu. Dulu aku pernah mendengar orang-orang mengatakan sesuatu, lalu aku mengatakannya.”
b. Siksa dan ni’mat kubur. Siksa kubur diperuntukkan bagi orang-orang dzalim, yakni orang-orang munafik dan orang-orang kafir, seperti dalam firman-Nya, yang artinya :

“…alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang dzalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut, sedang para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “keluarkanlah nyawamu.” Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.” (QS. Al an’am : 93).

Allah berfirman tentang keluarga fir’aun :
 النار يعرضون عليها غدوا وعشيا ويوم تقوم الساعة ادخلوا آل فرعون أشد العذاب 
“Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (Dikatakan kepada Malaikat) : “Masukkan fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.” (QS. Al Mu’min : 46).

Dari Zaid bin Tsabit diriwayatkan bahwa Nabi bersabda :
“kalau tidak karena kalian saling mengubur (orang yang mati), pasti aku memohon kepada Allah agar mamperdengarkan siksa kubur kepada kalian yang saya mendengarnya.” Kemudian Nabi menghadapkan wajahnya seraya berkata : “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Para sahabat berkata : “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari siksa neraka.” Nabi kemudian berkata lagi : “Mohonlah perlindungan Allah dari siksa kubur.” Para sahabat berkata : “Kami memohon perlindungan Allah dari siksa kubur.” Lalu beliau berkata lagi ; “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Para sahabat lalu barkata : “Kami memohon perlindungan kepada Allah dari berbagai fitnah baik yang tampak maupun yang tidak tampak.” Nabi berkata lagi : “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” Para sahabat berkata : “Kami mohon perlindungan kepada Allah dari fitnah dajjal.” (HR. Muslim).

Adapun ni’mat kubur diperuntukkan bagi orang-orang mukmin yang jujur. Hal ini telah dijelaskan Allah dalam firman-Nya, yang artinya :

“sesungguhnya orang-orang yang mengatakan : “Robb Kami ialah Allah”, kemudian mereka konsistent, para malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan gembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat : 30).

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat, maka mengapa jika kamu tidak dikuasai (oleh Allah)? Kamu tidak mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?. Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketentraman dan rezeki serta surga keni’matan.” (QS. Al Waqi’ah : 83-89).

Dari Al Bara’ bi Azib dikatakan bahwa Nabi bersabda tentang orang mukmin jika menjawab pertanyaan Malaikat di dalam kuburnya. Sabdanya : “ada suara dari langit : “hamba-Ku memang benar. Oleh karenanya berilah dia alas dari surga, berilah pakaian dari surga, dan bukakanlah baginya pintu surga.” Lalu datanglah keni’matan dan keharuman dari surga, dan kuburnya dilapangkan sejauh pandangan mata…” (HR. Ahmad, Abu Daud, dalam hadits yang panjang).

Buah iman kepada hari akhir :
1. Mencintai ketaatan dengan mengharap pahala hari itu.
2. Membenci perbuatan maksiat dengan rasa takut akan siksa pada hari itu.
3. Menghibur orang mukmin tentang apa yang tidak didapatkan di dunia dengan mengharap keni’matan serta pahala di akhirat.

Orang-orang kafir mengingkari adanya kebangkitan setelah mati dengan menyangka bahwa hari akhir dengan segala peristiwa-peristiwanya adalah suatu hal yang mustahil. Persangkaan mereka jelas sangat keliru dan kesalahannya itu dapat dibuktikan dengan syara’, indera, dan akal.

1. Bukti syara’
Allah berfirman, yang artinya :
“Orang-orang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah : “Tidak demikian, demi Robbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. At Taghabun : 7).

2. Bukti inderawi
Allah telah memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan orang-orang yang sudah mati di dunia ini.
Dalam surat Al Baqarah terdapat lima contoh mengenai hal ini :
a. Ketika kaum Musa berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak akan percaya dengan risalah yang dibawa Musa , sampai mereka melihat Allah dengan mata kepala mereka sendiri. Oleh karena itulah Allah berfirman (yang ditujukan kepada Bani Israil), yang artinya :

“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata : “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum Kami melihat Allah dengan terang.” Karena itu kamu disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya. Setelah itu Kami bangkitkan kamu sesudah kamu mati, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 55-56).

b. Cerita orang yang terbunuh yang pembunuhnya dipersengketakan bani Israil. Allah lalu memerintahkan mereka untuk menyembelih sapi, kemudian sapi itu dipukulkan ke tubuh orang yang terbunuh itu agar dapat menceritakan siapa sebenarnya yang telah membunuhnya. Hal ini diungkapkan dalam firman-Nya, yang artinya :

“Dan (ingatlah ), ketika kamu membunuh seorang manusia, lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman : “Pukullah mayat itu dengan sebahagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaannya agar kamu mengerti.” (QS. Al-Baqarah : 72-73).

c. Kisah kaum yang keluar dari negerinya karena menghindari kematian. Mereka berjumlah ribuan orang. Allah mematikan mereka, lalu menghidupkan kembali. Ini digambarkan dalam firman-Nya, yang artinya :
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halaman mereka, sedang mereka beribu-ribu (jumlahnya) karena tekut mati, maka Allah berfirman kepada mereka : “Matilah kamu, kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS. Al Baqarah : 234).

d. Kisah orang yang melewati sebuah desa yang hancur. Dia sangsi, bagaimana Allah mematikannya selama seratus tahun, kemudian Allah menghidupkan kembali. Ini dikisahkan dalam firman-Nya, yang artinya :
“Atau apakah (kamu memperhatikan) orang yang melewati suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negri ini setelah hancur?” maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkan kembali. Allah bertanya : “Berapa lama kamu tinggal di sini? Ia menjawab : “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman : “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum lagi berobah, dan lihatlah keledaimu (yang telah mejadi tulang-belulang). Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia. lihatlah tulang-belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging. Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata ; “Saya yakin Allah maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah : 259).

e. Kisah Nabiyullah Ibarahim ketika bertanya kepada Allah bagimana Dia menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Allah memerintahkannya untuk menyembelih empat ekor burung dan memisah-misahkan bagian-bagian tubuh burung itu di atas gunung-gunung yang ada di sekelilingnya. Ibrahim memanggil burung itu, lalu tak lama tampaklah olehnya bagian-bagian tubuh burung-burung itu menyatu dan segera mendatangi Nabi Ibrahim kembali. Ini dikisahkan Allah dalam Al-Qur’anul Karim, yang artinya :
“Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata : “ya Robbku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman : “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab : “Saya telah percaya, akan tetapi agar hatiku bertambah tenang.” Allah berfirman (kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu, lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, sesudah itu panggillah mereka, niscaya mereka datang kepada kamu dengan segera.” Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah : 260).

Inilah beberapa bukti inderawi yang menunjukkan mungkinnya Allah menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Telah diisyaratkan di atas, Allah memberikan kemukjizatan kepada Isa bin Maryam dengan menghidupkan orang-orang yang sudah mati serta mengeluarkannya dari kubur dengan izin Allah .

3. Bukti akal (logika)
Bukti akal dapat dibagi menjadi dua bagian :
a. Allah sebagai pencipta langit dan bumi seisinya telah menciptakannya pertama kali. Allah mampu menciptakan pertama kali, tentu pasti mampu pula untuk mengembalikannya.
Firman-Nya :
وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ  (27) سورة الروم
“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagiNya…” (QS. Ar rum : 27).
“sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya.” (QS. Al Anbiya’ : 104).

“Katakanlah : “ia akan dihidupkan oleh Robb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk.” (QS. Yasin : 79).

b. Bumi yang mati dan tandus akan hidup kembali dan tumbuhan yang mati akan bergerak subur setelah turun hujan. Yang mampu untuk menghidupkannya setelah mati, dan yang mampu menghidupkan orang-orang yang sudah mati itu sudah pasti Allah Maha perkasa lagi Maha berkehendak.

Allah berfirman yang artinya :
“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus, maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fushshilat : 39).

“Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan.” (QS. Qaaf : 9-11).

Orang-orang yang ingkar kepada siksa kubur dan keni’matannya mengira hal itu suatu perkara yang mustahil serta bertolak belakang dengan kenyataan karena apabila kubur itu dibongkar, tidak akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit. Persangkaan mereka ini jelas tidak benar menurut syara’, indera, dan akal.

1- Dalil syara’
Ibnu Abbas berkata, “Rasululah pernah keluar dari salah satu kebun kota madinah lalu beliau mendengar ada dua orang yang disiksa di dalam kuburnya.” Dalam hadits itu disebutkan bahwa yang satu disiksa karena tidak memelihara buang air kecil (kencing sembarangan), dan yang satunya lagi karena mengadu domba.” (HR. Bukhari).

2- Dalil inderawi
Orang yang tidur terkadang mimpi bahwa dia berada di tempat yang luas, menggembirakan, dan dia bersenang-senang di situ. Atau terkadang dia juga bermimpi berada di tempat yang sempit, menyedihkan, dan menyakitkan. Terkadang seseorang bisa terbangun karena mimpinya itu, padahal ia berada di atas tempat tidurnya. Ya, tidur adalah rekan mati.
Oleh karena itu Allah menyebut tidur dengan “wafat”, seperti dalam firman-Nya, yang artinya :
“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan…” (QS. Az zumar : 42).

3- Dalil akal
Orang yang tidur terkadang bermimpi yang benar sesuai dengan kenyataan. Bisa jadi mimpi melihat Nabi sesuai dengan sifat beliau. Barangsiapa pernah bermimpi melihat beliau sesuai dengan sifatnya, maka dia bagaikan melihatnya benar-benar. Padahal waktu itu dia berada di dalam kamarnya, di atas tempat tidurnya, jauh dari yang di mimpikan. Apabila keadaan tersebut suatu hal yang mungkin dijumpai di dunia, maka bagaimana tidak mungkin dijumpai di akhirat?
Adapun dalih mereka bahwa apabila kubur itu digali, akan didapati seperti semula, tidak bertambah luas dan tidak pula bertambah sempit maka jawabannya :
1. apa yang dibawa syara’ tidak boleh dipertentangkan dengan hal-hal yang bathil. Kalau orang yang mempertentangkan itu mau berpikir tentang apa yang dibawa oleh syara’ ia pasti mengetahui kebathilan kesalah pahamannya itu.
Seorang penyair bertutur :
Berapa banyak orang yang mencela pendapat yang benar
Padahal bencana itu dari pemahaman yang salah.

2. keadaan dalam barzakh (alam kubur) termasuk hal-hal ghaib yang tidak dapat dijangkau oleh indera, kerena jika hal itu dapat diindera, maka tidak ada artinya iman kepada yang ghaib, dan sama antara orang yang beriman kepada yang ghaib dan orang yang mengingkari, dalam mempercayainya.

3. Siksa kubur, ni’mat kubur, luas dan sempitnya kubur hanya dapat dijumpai oleh mayat itu sendiri, bukan yang lain. Ini seperti apa yang dilihat orang tidur dalam mimpinya, dia bisa berada di tempat yang sempit yang menakutkan, atau di tempat yang luas dan menyenangkan, padahal menurut orang lain yang melihatnya tidur, tidurnya tidak berobah, masih di dalam kamar dan di atas tempat tidurnya.
Ketika menerima wahyu, Nabi Muhammad berada di tengah-tengah para sahabatnya. Beliau mendengar wahyu, tetapi para sahabatnya tidak mendengarnya. Bisa jadi wahyu itu diturunkan dengan cara Malaikat menjelma menjadi seorang lelaki, lalu berbicara dengan beliau, dan para sahabat tidak melihatnya serta mendengarnya.

4. Pengetahuan manusia terbatas pada sesuatu yang hanya diizinkan Allah untuk diketahuinya. Tidak mungkin manusia dapat mengetahui apa saja yang ada. Langit yang tujuh serta bumi seisinya semua bertasbih dengan memuji Allah memperdengarkan kepada orang yang dikehendakinya, meskipun demikian hal itu terhalang dari kita.

“Dalam masalah ini Allah berfirman, yang artinya :
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada satupun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Panyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Isra’ : 44).

Demikian halnya dengan setan dan jin yang mondar-mandir pulang-pergi di atas bumi. Pernah ada jin datang kepada Nabi dan mendengarkan bacaan beliau, kemudian dia kembali ke kaumnya sebagai juru da’wah. Hal itu terhalang bagi kita.

Dalam masalah ini Allah berfirman, yang artinya :
“Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu-bapakmu dari surga. Ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya aurat keduanya. Sungguh, ia dan pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka . sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al A’raf : 27).

Apabila manusia tidak dapat mengetahui segala yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara ghaib yang ditetapkan oleh syara’ sekalipun mereka tidak dapat mengetahuinya dengan indera mereka.

IMAN KEPADA TAKDIR

Al qadar adalah takdir Allah untuk seluruh makhluk yang ada sesuai dengan ilmu dan hikmahNya.

Iman kepada takdir mangandung empat unsur :
1. Mengimani bahwa Allah mengetahui segala sesuatu secara global maupun terperinci, azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun perbuatan para hamba-Nya.
2. Mengimani bahwa Allah telah menulis hal itu di “Lauh Mahfudz”.
Tentang kedua hal tersebut Allah berfirman, yang artinya :
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfudzh)? Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj : 70).

Abdullah bin Umar ra. Berkata : “Aku pernah mendengar Rasululah bersabda :
” كتب الله مقادير الخلق قبل أن يخلق السماوات والأرض بخمسين ألف سنة “.
“Allah telah menulis (menentukan) takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi lima puluh ribu tahun.” (HR. Muslim).

3. Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan ada, kecuali dengan kehendak Allah . Baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya maupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk-makhlukNya.

Allah berfirman, yang artinya :
“Dan Robbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih…” (QS. Al Qashash : 68).
 هو الذي يصوركم في الأرحام كيف يشاء لا إله إلا هو العزيز الحكيم 
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakiNya. Tak ada Tuhan melainkan Dia. Yang Maha perkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Al Imran : 6).

Allah juga berfirman tentang sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan makhluk-makhluk-Nya, yang artinya :

“…Kalau Allah menghendaki, maka Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu…” (QS. An Nisa : 90).

“… Dan kalau Allah menghendaki, maka mereka tidak mengerjakannya. Maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (QS. Al An’am : 137).

4. Mengimani bahwa seluruh yang ada, Dzatnya, sifat dan geraknya diciptakan oleh Allah .

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” ( QS. Az Zumar : 62).
“… dan Dia telah menciptakan segala sesuatu dan Dia menetapkan ukuran-ukuranNya dengan serapi-rapinya.” (QS. Al Furqan :2 ).

Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim yang berkata kepada kaumnya, yang artinya :
“Padahal Allah lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (QS. As Shaffat : 96).

Iman kepada takdir sebagaimana telah Kami terangkan di atas tidak menafikan bahwa manusia mempunyai kehendak dan kemampuan dalam barbagai perbuatan yang sifatnya ikhtiari. Syara’ dan kenyataan (realita) menunjukkan ketetapan itu.

a. Secara syara’, Allah berfirman tentang kehendak manusia, yang artinya :

“Maka berangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Robbnya.” (QS. An Naba’ : 39).

“…maka datangilah tempat kamu bercocok tanam (isterimu) itu bagaimana saja kamu kehendaki…” (QS. Al Baqarah : 223).

Allah juga berfirman tentang kemampuan manusia, yang artinya :
“maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu, dengarlah dan taatlah…” (QS. At Taghabun : 16).
 لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها مااكتسبت 
“Allah tidak membebani seseorang malainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari (kebajikan) yang dikerjakannya serta mendapat siksa dari (kajahatan) yang dikerjakan…” (QS. Al Baqarah : 286).

b. Secara kenyataan, manusia mengetahui bahwa dirinya mempunyai kehendak dan kemampuan yang menyebabkannya mengerjakan atau meninggalkan sesuatu. Dia juga dapat membedakan antara kemauannya (seperti berjalan), dan yang bukan kehendaknya (seperti gemetar). Kehendak serta kemampuan seseorang itu akan terjadi dengan masyi’ah (kehendak) serta qudrah (kemampuan) Allah , seperti dalam sebuah firman-Nya, yang artinya :
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Robb semesta alam.” (QS. At Takwir : 28-29).

Karena alam semesta ini seluruhnya milik Allah, maka tidak ada pada miliknya barang sedikitpun yang tidak diketahui serta tidak dikehendakiNya.

Iman kepada takdir ini tidak berarti memberi alasan untuk meninggalkan kewajiban atau untuk mengerjakan maksiat. Kalau itu dibuat alasan, maka alasan itu jelas salah ditinjau dari beberapa segi :

1. Firman Allah, :
سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُواْ لَوْ شَاء اللّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلاَ آبَاؤُنَا وَلاَ حَرَّمْنَا مِن شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم حَتَّى ذَاقُواْ بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِندَكُم مِّنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِن تَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ أَنتُمْ إَلاَّ تَخْرُصُونَ(148) سورة الأنعام
“orang-orang yang menyekutukan Tuhan mengatakan : “Jika Allah menghendaki, niscaya Kami dan bapak-bapak Kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) Kami mengharamkan barang sesuatu apapun. Demikian juga orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para Rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah : “adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga kamu dapat mengemukakannya pada Kami? Kamu tidak mengetahui kecuali prasangka belaka dan kamu tidak lain hanya menyangka.” (QS. Al An’am : 148)
kalau alasan mereka dengan takdir itu dibenarkan, Allah tentu tidak akan menjatuhkan siksaNya.

2. Firman-Nya:
رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا (165) سورة النساء
“(mereka Kami utus) sebagi Rasul-Rasul pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-Rasul itu. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS. An Nisa” : 165).

Kalau takdir dapat dibuat alasan bagi orang-orang yang salah, Allah tidak menafikanya dengan diutusnya para Rasul, karena menyalahi sesuatu setelah terutusnya para Rasul jatuh pada takdir Allah juga.

3. Hadits yang diriwayatkan Al Bukhari dan Muslim, dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi bersabda :
” ما منكم من أحد إلا قد كتب مقعده من النار أو الجنة، فقال رجل من القوم، ألا نتكل يا رسول الله؟ قال: لا إعملوا كل ميسر، ثم قرأ :
“Setiap diri kalian telah ditulis (ditetapkan) temmpatnya di sorga atau di neraka. Ada seorang sahabat bertanya : “Mengapa kita tidak tawaakal (pasrah) saja, wahai Rasulullah?” beliau mejawab : “tidak, berbuatlah karena masing-masing akan dimudahkan.” Lalu beliau membaca surat Al lail ayat 4-7 :
إِنَّ سَعْيَكُمْ لَشَتَّى(4)، فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى ، وَصَدَّقَ بِالحُسْنَى ، فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى 
“Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda. Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga) maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al Lail 4-7)

jadi, Nabi memerintahkan untuk berbuat serta melarang menyerah pada takdir.

4. Allah memerintah serta melarang hamba-hambaNya, namun tidak menuntutnya kecuali yang mampu dikerjakan.
Allah berfirman:
َفاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ  (16) سورة التغابن
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS. At Taghabun : 16)
لاَ يُكَلِّفُ اللّهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا(286) سورة البقرة
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…” (QS. AlBaqarah : 286).

Kalau manusia dipaksakan untuk berbuat sesuatu, artinya disuruh mengerjakan sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan, maka ini merupakan suatu kesalahan. Oleh karena itu, bila maksiat dilakukan karena kebodohan atau karena lupa, atau karena dipaksa, maka pelakunya tidak berdosa. Mereka dimaafkan Allah.

5. Takdir Allah adalah rahasia yang tersembunyi, tidak dapat diketahui sebelum terjadinya takdir serta kehendak seseorang untuk mengerjakannya terlebih dahulu daripada perbuatannya. Jadi, kehendak seseorang untuk mengerjakan sesuatu itu tidak berdasarkan pada pengetahuannya akan takdir Allah. Pada waktu itu habislah alasannya dengan takdir karena tidak ada alasan bagi seseorang terhadap apa yang tidak diketahuinya.

6. Kita melihat orang yang ingin mendapatkan urusan dunia secara layak, tidak ingin pindah kepada yang tidak layak. Apakah ia beralasan pindahnya dengan takdir? Mengapa ia berpindah dari yang kurang menguntungkan kepada yang menguntungkan dengan alasan takdir? Bukankah keadaan dua hal itu satu?
Cobalah perhatikan contoh dibawah ini :
Kalau di depan seseorang ada dua jalan. Pertama menuju ke sebuah negeri yang semuanya serba kacau, pembunuhan, perampokan, pembantaian kehormatan, ketakutan, dan kelaparan. Yang kedua menuju ke sebuah negeri yang semuanya serba teratur, keamanan yang terkendali, kesejahteraan yang melimpah ruah, jiwa, kehormatan, dan harta benda dihormati, jalan mana yang akan ia tempuh?
Ia pasti akan menempuh jalan yang kedua yang menuju ke sebuah negeri yang teratur serta aman. Tidak mungkin orang yang berakal menempuh jalan yang menuju ke sebuah negeri yang kacau serta menakutkan dengan alasan takdir. Mengapa dalam urusan akhirat ia menempuh jalan yang menuju ke neraka bukan jalan yang menuju surga dengan beralasan takdir?
Contoh lain adalah seorang yang sakit disuruh meminum obat lalu meminumnya sedangkan hatinya tidak menyukainya. Dan dilarang memakan makanan yang berbahaya lalu meninggalkannya sementar hatinya menyukainya. Semua itu dimaksudkan mencari pengobatan serta kesehatan. Orang yang sakit itu tidak mungkin enggan minum obat atau melanggar memakan makanan yang berbahaya dengan alasan menyerah pada takdir. Bagaimana seseorang meninggalkan perintah Allah dan Rasulnya , atau malakukan larangan Allah dan Rasulnya dengan beralasan pada takdir?

7. Orang yang meninggalkan kewajiban serta melanggar kemaksiatan dengan alasan takdir itu seandainya dianiaya oleh seseorang, dirampas hartanya dan dirusak kehormatannya dengan beralasan pada takdir dan mengatakan : Anda jangan menyalahkan saya, karena kelaliman saya ini adalah takdir Allah, alasannya itu tidak akan diterima. Bagaimana seseorang tidak mau menerima alasan orang lain dengan takdir dalam penganiayaannya terhadap orang lain, lalu ia sendiri beralasan dengan takdir terhadap kelalimannya pada hak Allah ?

Diriwayatkan bahwa Amirul Mukminin Umar bin khattab menerima seorang pencuri yang berhak dipotong tangannya. Beliau memerintahkan agar dipotong tangannya. Pencuri berkata : tunggu dulu, Amirul Mukminin, aku mencuri ini hanya karena takdir Allah. Umar pun tidak kalah menjawab : demikian Kami potong tanganmu hanya karena takdir Allah .

Buah iman kepada takdir:

1. Bersandar kepada Allah ketika mengerjakan sebab, tidak bersandar kepada sebab itu sendiri, karena segala sesuatu ditentukan dengan takdir Allah .
2. Agar seseorang tidak lagi mengagumi dirinya ketika tercapai apa yang dicita-citakan. Karena tercapainya cita-cita merupakan ni’mat dari Allah yang dikarenakan takdirNya yaitu sebab-sebab keberhasilan. Dan mengagumi dirinya akan dapat melupakan syukur kepada ni’mat ini.
3. Menimbulkan ketenangan serta kepuasan jiwa terhadap seluruh takdir yang berlaku, tidak gelisah karena hilangnya sesuatu yang disukai atau datangnya sesuatu yang tidak disukai. Karena dia tahu bahwa hal itu ditentukan dengan takdir Allah yang memiliki langit dan bumi dan bahwa hal itu akan terjadi dengan pasti.
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ  سورة الحديد
“Tidak suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah ditulis dalam kitab (lauh mahfudh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu tidak berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan olehNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al Hadid : 22-230).

Nabi Muhammad bersabda :
” عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله له خير، ولا يكون ذلك لأحد إلا للمؤمن، إن أصابته سراء شكر، فكان خيرا له، وإن أصابته ضراء صبر، فكان خيرا له “.
“Sungguh menakjubkan perkara orang mukmin itu. Perkaranya semua baik, dan itu tidak ada pada seorangpun selain orang mukmin. Jika mendapatkan kegembiraan, ia bersukur, itu baik baginya. Dan jika ditimpa kesusahan ia bersabar, itupun baik baginya.” (HR. Muslim).

Dalam masalah takdir ini ada dua golongan yang tersesat :
Pertama : golongan Jabariyyah. Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia itu terpaksa atas perbuatannya, tidak punya iradah (kemauan) dan qudrah (kemampuan).

Kedua : golongan Qadariyah. Yaitu mereka yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatannya ditentukan oleh kemauan serta kemampuannya sendiri, kehendak serta takdir Allah tidak ada pengaruhnya sama sekali.

Untuk menjawab pendapat golongan pertama, (jabariyyah), dapat dengan mengunakan syara’ dan kenyataan :
a. Adapun dalil syara’ maka Allah telah menetapkan kehendak kepada hambaNya serta menggantungkan perbuatan kepadanya juga.
مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الآخِرَةَ سورة آل عمران
“…Diantara kamu ada yang menghendaki dunia dan ada pula yang menghendaki akhirat…” (QS. Al Imran : 152).
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَاء فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاء فَلْيَكْفُرْ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا وَإِن يَسْتَغِيثُوا يُغَاثُوا بِمَاء كَالْمُهْلِ يَشْوِي الْوُجُوهَ بِئْسَ الشَّرَابُ وَسَاءتْ مُرْتَفَقًا29) سورة الكهف
“Dan katakanlah : kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang (ingin) beriman hendaklah beriman. Dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang zdalim itu neraka yang mengepung mereka..” (QS. Al Kahfi : 29).
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاء فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ سورة فصلت
“Barangsiapa mengerjakan amal yang baik (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri (pula). Dan sekali-kali Tuhanmu tidak akan menganiaya hamba-hamba-Nya.” (QS. Fushilat : 46).

b. Secara kenyataan bahwa manusia mengetahui perbedaan antara perbuatan-perbuatan yang ikhtiari (dapat diupayakan) yang dikerjakan dengan kehendaknya, seperti makan, minum, dan jual beli, dan yang di luar kehendaknya seperti gemetar karena demam, dan jatuh dari atas. Pada yang pertama ini ia dapat mengerjakan dan memilih dengan kemauannya tanpa ada paksaan. sedangkan yang kedua dia tidak dapat memilih juga tidak dikehendaki terjadinya.

Pendapat golongan kedua (Qadariyah) dapat dijawab pula dengan syara’ dan kenyataan :
a. Adapun dalil syara’ maka Allah adalah Pencipta segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi dengan kehendakNya. Allah telah menjelaskan dalam Al Qur’an bahwa perbuatan makhlukNya terjadi dengan kehendak-Nya, sebagaimana firman-Nya:
 وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَكِنِ اخْتَلَفُواْ فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ وَلَوْ شَاء اللّهُ مَا اقْتَتَلُواْ وَلَكِنَّ اللّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ(253) سورة البقرة
“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah Rasul-Rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendakiNya.” (QS. Al Baqarah : 253).
وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا وَلَكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ(13) سورة السجدة
“Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan) dariku; sesungguhnya akan Aku penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama.” (QS. As Sajdah : 13).

b. Adapun menurut akal, bahwa alam semesta ini adalah milik dan berada dalam kekuasaan Allah. Dan manusia, sebagai bagian dari alam semesta tidak mungkin dapat berbuat dalam kekuasaan Si Penguasa kecuali dengan seizinNya dan kehendakNya.

TUJUAN AKIDAH ISLAM

Akidah Islam mempunyai banyak tujuan yang baik yang harus dipegang teguh, yaitu :
1. Untuk mengihlaskan niat dan ibadah kepada Allah semata. Karena Dia adalah pencipta yang tidak ada sekutu bagiNya, maka tujuan dari ibadah haruslah diperuntukkan hanya kepadaNya.
2. Membebaskan akal dan pikiran dari kekacauan yang timbul dari kosongnya hati dari akidah. Karena orang yang hatinya kosong dari akidah ini, adakalanya kosong hatinya dari setiap akidah serta menyembah materi yang dapat di indera saja dan adakalanya terjatuh pada berbagai kesesatan akidah dan khurafat.
3. Ketenangan jiwa dan pikiran, tidak cemas dalam jiwa dan tidak goncang dalam pikiran. Karena akidah ini akan menghubungkan orang mukmin dengan Penciptanya lalu rela bahwa Dia sebagai Tuhan yang mengatur, Hakim yang membuat tasyri’. Oleh karena itu hatinya menerima takdir-Nya, dadanya lapang untuk menyerah lalu tidak mencari pengganti yang lain.
4. Meluruskan tujuan dan perbuatan dari penyelewengan dalam beribadah kepada Allah dan bermuamalah dengan orang lain. Karena diantara dasar akidah ini adalah mengimani para Rasul, dengan mengikuti jalan mereka yang lurus dalam tujuan dan perbuatan.
5. Bersungguh-sungguh dalam segala sesuatu dengan tidak menghilangkan kesempatan beramal baik, kecuali digunakannya dengan mengharap pahala. Serta tidak melihat tempat dosa kecuali menjauhinya dengan rasa takut dari siksa. Karena diantara dasar akidah ini adalah mengimani kebangkitan serta balasan terhadap seluruh perbuatan.
وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِّمَّا عَمِلُواْ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (132) سورة الأنعام
“Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al An’am : 132).

Nabi Muhammad juga menghimbau untuk tujuan ini dalam sabdanya :
” الممؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كل خير، احرص على ما ينفعك واستعن بالله ولا تعجز وإن أصابك شيء فلا تقل لو أني فعلت كذا وكذا ولكن قل : قدر الله وما شاء فعل، فإن لو تفتح عمل الشيطان “.
“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Dan pada masing-masing terdapat kebaikan. Bersemangatlah terhadap sesuatu yang berguna bagimu serta mohonlah pertolongan dari Allah dan janganlah lemah. Jika engkau ditimpa sesuatu, maka jaganlah engkau katakan : seandainya aku kerjakan begini dan begitu. Akan tetapi katakanlah : itu takdir Allah dan apa yang Dia kehendaki dia lakukan. Sesungguhnya mengada-ada itu membuka perbuatan setan.” ( HR. Muslim)

6. Menciptakan umat yang kuat yang mengerahkan segala yang mahal maupun yang murah untuk menegakkan agamanya serta memperkuat tiang penyanggahnya tanpa peduli apa yang akan terjadi untuk menempuh jalan itu.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (15) سورة الحجرات
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang –rang yang benar.” (QS. Al Hujurat : 15),

7. Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki individu-individu maupun kelompok-kelompok serta meraih pahala dan kemuliaan.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ(97) سورة النحل.
“Barangsiapa yang mengerjakan amal baik, baik lelaki maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang paling baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 97)

Inilah sebagian dari tujuan akidah Islam, Kami mengharap agar Allah merealisasikannya kepada Kami dan seluruh umat Islam.

About these ads

Posted on 29 Oktober 2010, in Aqidah. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Silahkan komentar dengan sopan :

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: